Kunjungan ke Desa Wisata Naik 40 Persen, Warga Kelola Homestay Secara Mandiri
Pengelolaan berbasis komunitas membuat pendapatan warga tumbuh tanpa mengorbankan keaslian lingkungan desa.
Jumlah wisatawan yang berkunjung ke sejumlah desa wisata di Bali meningkat hingga 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini ditopang oleh model pengelolaan berbasis komunitas, di mana warga mengelola homestay, kuliner, dan paket aktivitas secara mandiri.
Kepala pengelola desa wisata setempat menyebutkan bahwa seluruh pendapatan dari tiket masuk dikelola bersama melalui badan usaha milik desa. Sebagian dialokasikan untuk perawatan lingkungan, sementara sisanya dibagikan dalam bentuk program pelatihan dan modal usaha.
Wisatawan mencari pengalaman otentik
Tren perjalanan pascapandemi menunjukkan wisatawan semakin menyukai pengalaman yang otentik: menanam padi, belajar membuat canang, hingga memasak bersama warga. Aktivitas seperti ini memberi nilai tambah tanpa perlu investasi infrastruktur besar.
"Kami tidak menjual tempat, kami menjual cara hidup. Itu yang membuat tamu kembali lagi," ujar salah satu pengelola homestay.
Ke depan, pengelola berencana memperluas kerja sama dengan pelaku UMKM kuliner dan kerajinan agar perputaran ekonomi semakin merata ke seluruh warga desa.